Minggu, 04 Mei 2014

PERSEPSI PETANI TERHADAP PERAN PENYULUH DALAM PENGEMBANGAN KELOMPOK TANI DI DESA KONDAMARA, KEC.LEWA, KAB. SUMBA TIMUR


PERSEPSI PETANI TERHADAP PERAN PENYULUH DALAM PENGEMBANGAN KELOMPOK TANI
DI DESA KONDAMARA, KEC.LEWA, KAB. SUMBA TIMUR



PROPOSAL PENELITIAN

OLEH

DAUD WEWO ROHI YIWA
NIM : 102380010




PROGRAM STUDI PENYULUHAN PERTANIAN LAHAN KERING
JURUSAN MANAJEMEN PERTANIAN LAHAN KERING
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI
KUPANG
Juni 2013
BAB  I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
                 
 Penyuluhan merupakan keterlibatan seseorang untuk melakukan komunikasi informasi secara sadar dengan tujuan membantu sasarannya memberikan pendapat sehingga dapat membuat keputusan yang benar. Kegiatan tersebut dilakukan oleh seseorang yang disebut penyuluh pertanian (Van Den Ban dan Hawkins, 1999). Hal ini sesuai dengan pernyataan Kartasapoetra (1994) yang menyatakan penyuluh pertanian merupakan agen bagi perubahan perilaku petani, yaitu mendorong petani mengubah perilakunya menjadi petani dengan kemampuan yang lebih baik dan mampu mengambil keputusan sendiri, yang selanjutnya akan memperoleh kehidupan yang lebih baik.
Dari uraian di atas maka tujuan penyuluhan adalah mengubah perilaku petani melalui peningkatan pengetahuan, sikap, ketrampilan serta motivasi petani sasarannya sehingga petani mampu untuk mengambil keputusan dalam mejalankan dan mengembangkan usaha taninya secara mandiri. Melalui peran penyuluh, petani diharapkan menyadari akan kebutuhannya, melakukan peningkatan kemampuan diri, dan dapat berperan di masyarakat dengan lebih baik.
Mencermati hal di atas, maka dalam kegiatan penyuluhan, peran seorang penyuluh pertanian sangat diperlukan dalam upaya mendorong terjadinya perubahan perilaku petani sasaran sesuai dengan yang dikehendaki. Dengan kata lain, keberhasilan suatu penyuluhan sangat dipengaruhi oleh besarnya peran penyuluh yang diberikan melalui kegiatan penyuluhan. Menurut Fashihullisan (2009) peranan penyuluhan dalam pemberdayaan masyarakat dapat dikategorikan ke dalam 4 hal yaitu sebagai fasilitator, pendidik, utusan/wakil dan sebagai teknisi. Sedangkan Mosher (1997) menguraikan tentang peran penyuluh pertanian, yaitu: sebagai guru, penganalisa, penasehat, sebagai organisator, sebagai pengembang kebutuhan perubahan, penggerak perubahan, dan pemantap hubungan masyarakat petani.
Berdasarkan perannya tersebut maka secara empris penyuluh pertanian merupakan ujung tombak keberhasilan pembangunan pertanian ( Hubeis et al.1998). Sebagai ujung tombak sudah tentunya penyuluh harus mampu memainkan perannya dengan baik sehingga dapat mendorong proses pembangunan pertanian.
Salah satu langkah efektif yang dapat ditempuh dalam rangka mempercepat laju proses pembangunan pertanian adalah dengan melakukan pengembangan kelompok tani. Kelompok tani sangat penting dalam proses penyampaian informasi dan teknologi baru kepada petani. Metode penyuluhan kelompok lebih menguntungkan dari pada media massa karena akan terjadi umpan balik yang dapat meminimalkan salah pengertian antara penyuluh dan petani dalam penyampaian informasi. Dalam metode ini interaksi yang timbul antara petani dan penyuluh akan lebih intensif. Dalam metode ini petani diajak dan dibimbing secara berkelompok untuk melaksanakan kegiatan yang lebih produktif atas dasar kerja sama.  
Permentan Nomor: 273/Kpts/OT.160/4/2007, menyebutkan ada tiga arah pengembangan kelompok tani, yaitu: (1) Peningkatan kemampuan kelompok tani dalam melaksanakan fungsinya (wadah belajar, wahana kerjasama dan unit produksi); (2) Peningkatan kemampuan para anggota dalam mengembangkan agribisnis; dan (3) Menguatkan kelompok tani menjadi organisasi petani yang kuat dan mandiri.
Seperti yang telah diuraikan di atas, maka dalam upaya pengembangan kelompok tani sangat membutuhkan atau tergantung pada kemampuan penyuluh dalam memainkan perannya sehingga proses pengembangan kelompok tani dapat sesuai dengan arah pengembangan kelompok tani sebagaimana yang disebutkan dalam Permentan. Dengan kata lain,  dapat dikatakan bahwa tinggi rendahnya tingkat perkembangan kelompok tani sangat dipengaruhi oleh besarnya peran penyuluh yang diberikan dalam melakukan pengembangan terhadap kelompok tani.
Besarnya peranan penyuluh dalam melakukan pengembangan kelompok tani  secara fisik tercermin melalui tingkat perkembangan usaha tani yang ditekuni petani tersebut, sedangkan secara psikologis tercermin melalui pandangan/persepsi petani terhadap peran penyuluh tersebut. Dengan demikian, maka besarnya peran penyuluh akan berpengaruh terhadap tinggi rendahnya persepsi petani.
Desa Kondamara merupakan salah satu desa yang terletak di kecamatan Lewa Kabupaten Sumba Timur. Desa Kondamara memiliki 13 kelompok tani dan berdasarkan kenyataan yang ditemui dilapangan diketahui bahwa dari 13 kelompok tani yang ada di Desa Kondamara hanya 3 diantaranya yang dapat dikatakan memiliki tingkat perkembangan yang cukup baik, sementara 10 kelompok lainnya memiliki tingkat perkembangan yang cukup memprihatinkan.
Berdasarkan kenyataan tersebut di atas, maka penulis merasa perlu untuk mengkaji tentang persepsi petani terhadap paran penyuluh dalam upaya pengembangan kelompok tani di Desa Kondamara ini, sehingga hal inilah yang kemudian membuat penulis merumuskan judul tulisan ini yaitu PERSEPSI PETANI TERHADAP PERAN PENYULUH DALAM PENGEMBANGAN KELOMPOK TANI DI KEC.LEWA, KAB. SUMBA TIMUR. Penulis berharap hasil penelitian ini dapat memberikan banyak manfaat bagi semua pihak yang berkepentingan didalamnya.

1.2.Tujuan Dan Manfaat
1.2.1.      Tujuan

a.       Mengetahui persepsi petani terhadap peran penyuluh dalam pengembangan kelompok tani
b.      Menidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap peran penyululuh dalam melakukan pengembangan kelompok tani.
1.2.2.      Manfaat
a.       Kinerja penyuluh pertanian dalam melakukan pengembangan kelompok tani dapat terukur.
b.      Persepsi petani terhadap peran penyuluh dalam pengembangan kelompok tani dapat terukur.
c.       Sebagai bahan informasi bagi lembaga penyuluhan dalam perekrutan maupun dalam peningkatan kualitas tenaga penyuluh.

1.3.Rumusan Masalah
Berdasarkan pada uraian di atas maka rumusan masalah penelitian yang akan diteliti yaitu ‘Bagaimana persepsi petani terhadap peran penyuluh dalam pengembangan kelompok tani” ?

















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Konsep Persepsi
2.1.1.      Definisi Persepsi
Menurut Leavit (1978) yang diambil dari Faradina dan Triska, dalam (Ramadhan, 2009), persepsi dalam arti sempit ialah penglihatan, bagaimana cara seseorang melihat sesuatu; sedangkan dalam arti luas ialah pandangan atau pengertian, yaitu cara seseorang memandang atau mengartikan sesuatu. Persepsi terkait erat dengan masalah sikap, karena persepsi merupakan komponen kognitif sikap. Dalam psikologi sosial, sikap diartikan sebagai derajat atau tingkat kesesuaian atau ketidaksesuaian seseorang terhadap objek tertentu. Kesesuaian atau ketidaksesuaian ini dinyatakan dalam skala yang menunjukkan sangat setuju atau sangat tidak setuju terhadap objek sikap (Mar’at, 1981).
Persepsi merupakan proses akhir dari pengamatan yang diawali oleh proses pengindraan, yaitu proses diterimnya stimulus oleh alat indra,  lalu diteruskan ke otak, dan baru kemudian individu menyadari tentang sesuatu yang dipersepsikan (Sunaryo, 2004). Sedangkan menurut Rakhmat (2004) persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan melampirkan pesan.
Berdasarkan beberapa definisi persepsi tersebut di atas maka penulis berpendapat bahwa persepsi merupakan pemahaman seseorang terhadap stimulus (rangsangan) yang diterimanya berdasarkan pada tingkat pengetahuan, pengalaman, sikap, objek yang dipersepsikan dan situasi atau keadaan saat mempersepsikan suatu stimulus. Dengan demikian, maka persepsi setiap orang terhadap suatu objek yang sama bisa saja berbeda, hal ini di sebabkan karena persepsi sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu pelaku persepsi (perceiver), objek yang dipersepsikan dan konteks dari situasi dimana persepsi itu dilakukan Robins ,2003  (dalam Hendrikus 2012).
2.1.2.      Syarat Terjadinya Persepsi
Menurut Sunaryo (2004) mengetakan bahwa syarat terjadinya persepsi yaitu adanya objek, adanya perhatian sebagai langkah pertama untuk mengadakan persepsi, adanya alat indera sebagai reseptor penerima stimulus yakni syaraf sensoris sebagai alat untuk meneruskan stimulus ke otak dan dari otak dibawa melalui syaraf motoris sebagai alat untuk mengadakan respon. Selanjutnya Baiqhaqi, 2005, menyatakan bahwa persepsi pada umumnya bersifat spontan pada manusia ketika menghadapi rangsangan. Persepsi tidak berdiri sendiri, tetapi dipengaruhi atau   bergantung pada konteks dan pengalaman.
2.1.3.      Jenis-Jenis Persepsi
Terdapat dua jenis persepsi, yaitu External Perception, yaitu persepsi yang terjadi karena adanya rangsangan yang datang dari luar diri individu dan Self Perception, yaitu persepsi yang terjadi karena adanya rangsangan yang berasal dari dalam diri individu. Dalam hal ini yang menjadi objek adalah dirinya sendiri. Dengan persepsi, individu dapat menyadari dan dapat mengerti tentang keadaan lingkungan yang ada di sekitarnya maupun tentang keadaan diri individu (Sunaryo, 2004).
2.1.4.      Faktor Yang Mempegaruhi Persepsi
Menurut Siagian (1995) ada beberapa faktor yang mempengaruhi persepsi yaitu :
a. Diri orang yang bersangkutan, dalam hal ini orang yang berpengaruh adalah karakteristik individual meliputi dimana sikap, kepentingan, minat, pengalaman dan harapan.
b. Sasaran persepsi, yang menjadi sasaran persepsi dapat berupa orang, benda, peristiwa yang sifat sasaran dari persepsi dapat mempengaruhi persepsi orang yang melihatnya. Hal-hal lain yang ikut mempengaruhi persepsi seseorang adalah gerakan, suara, ukuran, tindak tanduk dan lain-lain dari sasaran persepsi.
c.  Faktor situasi, dalam hal ini tinjauan terhadap persepsi harus secara kontekstual artinya perlu dalam situasi yang mana persepsi itu timbul.
2.1.5.      Pengukuran Persepsi
Mengukur persepsi hampir sama dengan mengukur sikap. Walaupun materi yang diukur bersifat abstrak, tetapi secara ilmiah sikap dan persepsi dapat diukur, dimana sikap terhadap obyek diterjemahkan dalam sistem angka. Dua metode pengukuran sikap terdiri dari metode Self Report dan pengukuran Involuntary Behavior.
1. Self Report merupakan suatu metode dimana jawaban yang diberikan dapat menjadi indikator sikap seseorang.
2. Involuntary Behaviour  dilakukan jika memang diinginkan atau dapat dilakukan oleh responden, dalam banyak situasi akurasi pengukuran sikap dipengaruhi kerelaan responden (Azzahy, 2010).       
2.2. Peran Penyuluh Dalam Pengembangan Kelompok Tani

Peranan merupakan aspek yang dinamis dari kedudukan (status) seseorang yang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukan menunjukkan dia menjalankan perannya. Hak dan kewajiban harus saling berkaitan yang dijalankan seseorang sesuai dengan ketentuan peranan yang seharusnya dilakukan dan sesuai dengan harapan peranan yang dilakukan (Departemen Pertanian, 2009).
Peranan penyuluhan dalam pemberdayaan masyarakat, yaitu: menyadarkan masyarakat atas peluang yang ada untuk merencanakan hingga menikmati hasil pembangunan, memberikan kemampuan masyarakat untuk menentukan program pembangunan, memberi kemampuan masyarakat dalam mengontrol masa depannya sendiri, dan memberi kemampuan dalam menguasai lingkungan sosialnya (Fashihullisan,2009). Peran seorang pekerja pengembangan masyarakat dapat dikategorikan ke dalam empat peran, yaitu : Peran fasilitator (Facilitative Roles), Peran pendidik (Educational Roles),  Peran utusan atau wakil (Representasional Roles), dan  Peran teknikal (Technical Roles).
Mosher (1997) berpendapat bahwa peran penyuluh pertanian meliputi ; sebagai guru, penganalisa, penasehat, sebagai organisator, sebagai pengembang kebutuhan perubahan, penggerak perubahan, dan pemantap hubungan masyarakat petani. Disisi lain, Kartasapoetra (1994) juga mengemukankan bahwa peran penyuluh dalam upaya mewujudkan pembangunan pertanian modern mencakup tiga hal penting, yaitu ; sebagai peneliti, pendidik dan sebagai penyuluh.
Abbas (1995) dalam hafsah 2009) mengatakan bahwa sebagai penyuluh pertanian dapat menampilkan dirinya sebagai penasehat, komunikator dan motivator dalam rangka proses alih ilmu dan teknologi, pembinaan ketrampilan serta pembentukan sikap yang sesuai dengan nilai-nilai dasar dan kebutuhan masyarakat yang dinamis.
Berdasarkan peran penyuluh tersebut di atas, maka dapat dilihat bahwa peran penyuluh tidak hanya sebagai pentrasfer informasi dan inovasi bagi petani tetapi juga mengarah pada bagaimana membantu petani dalam mengambil keputusan untuk memilih inovasi yang akan diterapkan. Hal ini tentunya membutuhkan kemampuan yang tinggi dari seorang penyuluh untuk dapat meningkatkan perannya dalam pengembangan masyarakat sehingga dapat mendorong laju pembangunan pertanian.
Kelompok tani adalah sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama, yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lainnya, dan memandang mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut (Mulyana, 2000). Hal ini diperjelas lagi oleh Trimo (2006)  yang mengemukakan bahwa kelompok tani adalah petani yang dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan kesamaan kondisi lingkungan (sosial, ekonomi, sumberdaya) keakraban dan keserasian yang dipimpin oleh seorang ketua. Menurut Santoso (1992) mengatakan bahwa kelompok tani merupakan suatu bentuk perkumpulan petani yang berfungsi sebagai media penyuluhan dan merupakan dasar untuk mencapai perubahan sesuai dengan tujuan penyuluhan.
Upaya pengembangan kelompok tani dilakukan melalui metode pendekatan kelompok. Upaya pembinaan kelompok tani melalui penyuluhan pertanian berkaitan dengan upaya pemberdayaan petani. Entang Sastraatmadja, 2005 dalam Eko Legowo, 2006 mengemukakan bahwa Ke depan Penyuluhan Pertanian adalah bagian integral dari pemberdayaan (empowering) dan pemartabatan (dignity) kaum tani.
 Menurut Permentan Nomor: 273/Kpts/OT.160/4/2007, menyebutkan tiga arah pengembangan kelompok tani, yaitu: (1) Peningkatan kemampuan kelompok tani dalam melaksanakan fungsinya; (2) Peningkatan kemampuan para anggota dalam mengembangkan agribisnis; dan (3) Menguatkan kelompok tani menjadi organisasi petani yang kuat dan mandiri.
Dalam upaya pengembangan kelompok tani agar sesuai dengan arahnya sebagaimana yang disebutkan dalam Permentan Nomor: 273/Kpts/OT.160/4/2007, maka  peran penyuluh sebagai agen perubahan dan pemberdayaan masyarakat sangat dibutuhkan dalam proses pengembangan kelompok tani, karena tingkat keberhasilan suatu kelompok tani tidak terlepas dari besarnya peran yang diberikan oleh seorang penyuluh dalam mengembangkan kelompok tani tersebut.
Berdasarkan uraian tersebut maka dalam penelitian ini, penulis mengelompokkan peran penyuluh menjadi lima peran utama yaitu sebagai inisiator, motivator, fasilitator, organisator dan komunikator. Kelima hal inilah yang kemudian akan dikaji untuk mendapatkan informasi tentang besarnya peran penyuluh dalam pengembangan kelompok tani yang dilihat berdasarkan pemahaman atau persepsi petani.

2.3. Hubungan Antara Persepsi Petani Dengan Kinerja Penyuluh.
Menurut (Sarlito Wirawan Sarwono dalam Ramadhan, 2009), Persepsi adalah kemampuan seseorang untuk mengorganisir suatu pengamatan, kemampuan tersebut antara lain kemampuan untuk membedakan, kemampuan untuk mengelompokan, dan kemampuan untuk memfokuskan. Oleh karena itu seseorang bisa saja memiliki persepsi yang berbeda, walaupun objeknya sama.
 Indrajaya (dalam Prasilika, Tiara H. dalam Ramadhan, 2009), berpendapat persepsi adalah proses dimana seseorang mengorganisasikan dalam pikirannya, memanfaatkan, mengalami, dan mengolah perbedaan atau segala sesuatu yang terjadi dalam lingkungannya. (Walgito dalam Efelina, 2012), menyatakan pengertian persepsi merupakan stimulus yang diindera oleh individu, diorganisasikan, kemudian diinterpretasikan sehingga individu menyadari dan mengerti tentang apa yang diindera.
Menurut John Whitmore (Wibowo, 2007), “kinerja adalah pelaksanaan fungsi-fungsi yang dituntut dari seseorang, kinerja adalah suatu perbuatan, suatu prestasi, suatu pameran umum keterampilan.” Menurut Barry Cushway (Wibowo, 2007), “Kinerja adalah menilai bagaimana seseorang telah bekerja dibandingkan dengan target yang telah ditentukan.” Veizal Rivai (Suprasta, 2005) mengemukakan bahwa kinerja “merupakan perilaku nyata yang ditampilkan setiap orang sebagai prestasi kerja yang dihasilkan oleh karyawan sesuai dengan perannya dalam perusahaan.”
Dalam pengembangan kelompok tani, kinerja penyuluh pertanian akan mempengaruhi tingkat persepsi petani terhadap peran penyuluh dalam pengembangan kelompok tani. Kinerja mencakup suatu proses dan hasil yang diperoleh dari suatu kegiatan atau tindakan yang dilakukan. Kinerja penyuluh sebagai suatu perilaku nyata yang ditampilkan sebagai prestasi kerja yang dihasilkan sesuai dengan peranannya akan diamati, dinilai secara langsung oleh petani dan kemudian hasil pengamatan dan penilaian tersebut akan mendorong masyarakat untuk mengorganisasikan, mengelompokkan dan membedakan stimlus (kinerja) yang diterimanya berdasarkan tingkat pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya sehingga akan memunculkan suatu persepsi terhadap stimulus (kinerja penyuluh) tersebut.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat dikatakan bahwa kinerja penyuluh dalam pengembangan kelompok tani sangat mempengaruhi persepsi petani terhadap peran penyuluh tersebut. Dengan kata lain, tingkat persepsi petani akan menunjukkan atau mencerminkan besarnya peran penyuluh dalam mengembangkan kelompok tani. Semakin tinggi kinerja penyuluh maka persepsi petani semakin baik terhadap peran penyuluh tersebut.




















BAB  III
METODOLOGI PENELITIAN


3.1. Kerangka Pemikiran
Menurut (Gibson, dkk dalam Efelina, 2012), yang menyatakan definisi persepsi adalah proses kognitif yang dipergunakan oleh individu untuk menafsir dan memahami dunia sekitarnya (terhadap obyek), tanda-tanda dari sudut pengalaman yang bersangkutan. Menurut Siagian (1995) mengemukan bahwa persepsi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu diri orang yang mempersepsikan, sasaran persepsi dan situasi.
Pengembangan kelompok tani merupakan salah satu upaya yang dapat ditempuh untuk mempercepat laju proses pembangunan pertanian. Upaya pengembangan kelompok tani tidak terlepas dari besarnya peran penyuluh yang diterima. Dengan kata lain bahwa peran penyuluh sangat penting dalam upaya pengembangan kelompok tani. Abbas (1995) (dalam Hafsah 2009) mengatakan bahwa sebagai penyuluh pertanian dapat menampilkan dirinya sebagai penasehat, komunikator dan motivator dalam rangka proses alih ilmu dan teknologi, pembinaan ketrampilan serta pembentukan sikap yang sesuai dengan nilai-nilai dasar dan kebutuhan masyarakat yang dinamis. Peran seorang pekerja pengembangan masyarakat dapat dikategorikan kedalam empat peran yaitu peran sebagai fasilitator (Facilitative Roles), peran sebagai pendidik (Educational Roles), peran sebagai utusan atau wakil (Representasional Roles), dan peran sebagai teknikal (Technical Roles). Disisi lain, Mosher (1968) dalam Mardikanto (1993), mengemukakan bahwa seorang penyuluh harus mampu memainkan peran ganda yang meliputi sebagai guru, penganalisah, penasehat dan organisator.
Dari uraian di atas tampak bahwa perkembangan kelompok tani sangat dipengaruhi oleh besarnya peran penyuluh yang dapat dikelompokkan menjadi lima peran utama yang meliputi peran sebagai inisiator, fasilitator, komunikator, motivator dan organisator. Sementara itu, besarnya peran penyuluh tersebut dapat tercermin melalui persepsi petani. Semakin besar peranan penyuluh maka persepsi petani terhadap peran penyuluh semakin baik serta tingkat perkembangan kelompok tanipun akan semakin tinggi. Untuk lebih jelasnya tentang hubungan antara persepsi petani terhadap peran penyuluh dan tingkat perkembangan kelompok tani dapat dilihat pada skema di bawah ini :




Text Box:  Penyuluh
Inisiasi, Fasilitasi, komunikasi, motivasi dan organisasi.
Folded Corner: Tingkat perkembangan kelompok tani





Gbr 1. Skema Kerangka Berpikir

3.2. Hipotesis
Berdasarkan kerangka berpikir tersebut di atas , maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut :‘Semakin baik peran penyuluh, maka semakin tinggi tingkat perkembangan kelompok tani “.
3.3. Metode Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan yaitu Deskriptif Kualitatif, penelitian ini menggunakan metode survey, pendekatan secara langsung kepada kelompok tani dan memberikan kuesioner, sekaligus melakukan pengamatan dilapangan.
3.3.1. Lokasi Dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan selama dua (2) bulan, yaitu pada bulan Mei-Juni 2014 dan bertempat di desa Kondamara, Kecamatan Lewa, Kabupaten Sumba Timur. Penentuan lokasi penelitian berdasarkan pada desa yang memiliki jumlah kelompok tani paling banyak.

3.3.2. Alat Dan Bahan Penelitian
Alat dan bahan yang digunakan untuk memperlancar kegiatan penelitian ini meliputi alat tulis menulis, kertas, kuisioner (daftar pertanyaan), laptop, dan kamera.

3.3.3. Variabel Yang Diukur
Variabel utama yaitu persepsi petani, yang diukur berdasarkan peran penyuluh yang mencakup lima aspek, yaitu peran sebagai inisiator, fasilitator, organisator, motivator dan komunikator.
3.3.4. Prosedur Penelitian
1.      Survei
Survey adalah kegiatan yang dilakukan sebelum melakukan penelitian untuk memastikan informasi mengenai populasi dan sampel yang di tentukan dalam penelitian.
2.      Validitas Kuisioner
Validasi adalah tingkat kemampuan suatu instrumen sebagai pengukuran instrumen tersebut. Menurut Sugiyono (1998), suatu instrumen dinyatakan valid apabila instrumen tersebut mampu mengukur apa yang hendak diukur.
3.      Pengambilan Data
Pengambilan data adalah kegiatan yang mengacu kepada proses untuk mendapatkan informasi atau data valid yang berdasarkan hasil pada jawaban kuisioner yang ada. Data yang diambil ditujukan untuk mengacu kepada tujuan yang diproleh. Dan pengambilan data disesuaikan dengan jadwal penelitian yaitu pada bulan Mei tahun 2014.
4.      Tabulasi Data Dan Pengolahan Data
Tabulasi data merupakan langkah memasukkan data berdasarkan hasil penggalian data di lapangan. Sedangkan Pengolahan Data (data processing) dapat dikatakan sebagai susunan atau kumpulan dari hasil kegiatan pikiran dengan bantuan tenaga atau suatu peralatan, sehingga dapat menghasilkan informasi untuk mencapai tujuan tertentu.
5.      Analisis Data
Analisis data adalah kegiatan mengubah data hasil penelitian menjadi informasi yang dapat digunakan untuk mengambil kesimpulan dalam suatu penelitian.
6.      Pelaporan
Pelaporan adalah proses penyelesaian yang dihasilkan dari segala rangkaian kegiatan penelitian yang disusun dalam bentuk laporan berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan untuk memperoleh data atau informasi yang sesuai dengan tujuan dari penelitian.
3.3.5. Metode Penentuan Populasi Dan Sampel
1)      Populasi
Penentuan populasi ditentukan secara sengaja (purposive), yaitu seluruh anggota poktan (13 poktan) yang ada di desa Kondamara yang berjumlah 252 orang.
2)      Sampel
Penentuan sampel dipilih secara acak sederhana (simple random sampling), dengan catatan bahwa anggota populasi memiliki kehomogenan. Pengambilan acak merupakan cara pengambilan sampel dimana tiap unsur yang membentuk populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk terpilih menjadi sampel. Berkaitan dengan jumlah sampel yang harus diambil, Gay dan Diehl (1992) mengemukakan bahwa untuk penelitian deskriptif jumlah sampel adalah 10 % dari populasi dengan cara mempertimbangkan perwakilan dari setiap poktan. Dengan demikian maka jumlah sampel yang akan diambil dalam penelitian ini yaitu sebanyak 10% dari 252 orang, yaitu sebanyak 26 orang.
3.3.6. Jenis Dan Sumber Data
Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut :
1)        Data primer yaitu data yang di peroleh secara langsung dari lokasi penelitian melalui observasi, pembagian kuisioner dan wawancara.
2)        Data sekunder yaitu data yang di peroleh dari instansi yang berhubungan dengan penelitian ini, literatur/ referensi, badan pusat statistik NTT.
3.3.7. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data meliputi tahapan berikut :
1)        Metode Observasi, yaitu dengan mengadakan pengamatan langsung terhadap obyek yang diamati.
2)        Kuisioner, merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan kepada responden untuk dijawabnya.
3)        Metode Wawancara, yaitu pertanyaan lanjutan dari pertanyaan yang ada di kuisioner untuk melangkapi data yang diperoleh.
4)        Metode Kepustakaan, merupakan teknik pengumpulan data dengan cara melakukan penelusuran terhadap berbagai sumber seperti penelusuran kepustakaan buku, laporan penelitian, artikel, majalah, karya ilmiah dan melalui internet yang berhubungan dengan topik penelitian.
3.3.8. Metode Analisis Data
Analisis data untuk mengetahui tingkat persepsi petani terhadap peran penyuluh dilakukan dengan menggunakan alat ukur skala Likert, yaitu skala yang digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial (Sugiyono , 2011).
Dengan Skala Likert, variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel, kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrument yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan.
Daftar pertanyaan (kuisioner) yang akan digunakan dalam penelitian terlebih dahulu harus diuji kelayakannya dengan cara menguji validitas dan reliabilitasnya untuk mengetahui sejauh mana tingkat kehandalan dari instrumen yang digunakan. Sugiyono (1998), menyatakan bahwa suatu instrumen dinyatakan valid, apabila instrumen tersebut mampu mengukur apa yang hendak diukur. Reliabilitas adalah kemampuan, keajegan atau stabilitas hasil pengamatan dengan instrumen. Instrumen yang reliabel berarti instrumen apabila digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama akan menghasilkan data yang sama.
Teknik Validasi dan Reliabilitas Kuesioner adalah sebagai berikut :
1)      Teknik Validasi Kuisioner
Validasi kuesioner dilakukan dengan cara mengkorelasikan masing-masing pertanyaan dengan skor total memakai rumus korelasi ” Product Moment ” menurut Sugiyono (1998) sebagai berikut:


Keterangan :
            r           = koefisien korelasi
            n          = jumlah pertanyaan
            Xi        = skor pertanyaan (butir)
            Y         = skor total (factor)
            XiY      = skor pertanyaan dikalikan skor total
Dikatakan signifikan apabila harga r hitung ≥ r tabel, dengan menggunakan tingkat keyakinan 95% atau taraf signifikan (α = 0,05) diperoleh nilai r tabel sebesar 0,374. Apabila nilai r > 0,374 maka butir instrumen dinyatakan valid dan r < 0,374, maka butir pertanyaan tersebut dinyatakan tidak valid (Sugiyono, 1998).

2)      Teknik Reliabilitas Kuisioner
Pengujian reliabilitas untuk mengetahui sejauh mana suatu alat ukur dapat dipercaya atau diandalkan. Uji reliabilitas digunakan dengan menghitung nilai Cronbach Alpha dengan menghitung rata-rata interkoneksi diantara butir-butir kuesioner. Menurut (Sekaran, 2000), menyatakan bahwa reliabilitas yang ditentukan dengan nilai Cronbach Alpha jika kurang dari 0,600 dinyatakan tidak reliable sedangkan jika lebih dari 0,600 dinyatakan reliabel.

Setelah melakukan validasi dan realibilitas instrument, langkah selanjutnya adalah menganalisis data untuk menilai persepsi petani dengan menggunakan rumus sebagai berikut :
∑xi         = (∑STB x 1) + (∑TB x 2) + (∑B x 3) + (∑SB x 4)
Keterangan:
∑xi                         = Jumlah bobot jawaban variabel ke- i
∑STB                  = Jumlah orang yang memilih jawaban sangat tidak      baik
∑TB                 = Jumlah orang yang memilih jawaban tidak baik
∑B                   = Jumlah orang yang memilih jawaban baik
∑SB                 = Jumlah orang yang memilih jawaban sangat baik
1, 2, 3, 4          = Skor untuk skala likert

Untuk rata-rata jawaban responden dapat dihitung dengan persamaan:
Keterangan:                                                    
       = Rata-rata jawaban respondens variabel ke -i          
xi          = Jumlah bobot jawaban variabel ke -i
n          = Jumlah responden

3.3.9. Definisi Operasional
1.      Persepsi adalah pandangan, pemahaman atau  tanggapan seseorang terhadap suatu stimulus (rangsangan), pesan atau informasi yang disampaikan.
2.      Perana penyuluh pertanian adalah seperangkat fungsi yang harus dijalankan oleh seorang penyuluh dalam rangka menjalankan tugasnya, dalam penelitian ini  peran penyuluh yang diukur meliputi ; peran sebagai inisiator, fasilitator, organisator, motivator dan komunikator
3.      Pengembangan kelompok tani adalah sejumlah perubahan yang terjadi pada kelompok tani melalui suatu kegiatan penyuluhan.





















DAFTAR PUSTAKA

ü  Malinau. S. 2011. Peranan Kelompok Tani. http://kumpulanbungamawarku, diakses 15 Juni 2013
ü  Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Administrasi  dan R & D. Bandung : Alfabeta.
ü  Sukriah.2011. Peran dan Fungsi Kelompok Tani (POKTAN) . http://bpkp-sidrap.blogspot.com/2011/03/kelompok-tani-poktan.html. diakses 15 juni 2013.
ü  Van Den Ban, A.W & H.S. Hawkins. 1999. Penyuluhan Pertanian. Yogyakarta.Kanisius.

Tidak ada komentar: